“THE CHINA ATTACK”
“THE CHINA ATTACK”
Produk-produk murah china telah merambah ke hampir semua sector industry di Indonesia. Mulai dari yang low-tech sampai hi-tech. perusahaan-perusahaan di Indonesia harus bisa mengantisipasi dengan melakukan efisiensi di sepanjang rantai nilai produksi agar juga bisa menghasilkan produk murah berkualitas.
Beberapa minggu yang lalu cari buku ke JACC skalian mampir ke pasar tanah abang, saya lumayan ngiler & takjub, karena mendapati produk garmen dengan aneka model menawan, berkualitas baik, namun dengan harga yang tidak masuk akal atau kelewat murah jika kita membandingkan dengan produk sejenis bada produsen. Celana kain berserat wol dengan kualitas oke misalnya, dibandrol dengan harga dibawah Rp. 100.000 per potong. Kemeja atasan wanita dari bahan katun kualitas baik di jual Rp. 50.000, semua produk super murah itu berasal dari negri panda ( China ).
“Tragedi”<<lho kok tragedy sich, iya nih mungkin karena ketakutan para pengusaha kiita dan masyarakat terhadap serbuan produk china>> menjalar ke berbagai sector industry, fenomena ini juga dapat dikatakan wabah, “wabah serangan produk cina tepatnya”. Mengapa saya sebut wabah? Sebab seperti umumnya penyakit yang mewabah, pengaruh buruknya mengalir kemana-mana. Pertama, menjalar keberbagai industry, mulai dari yang low-tech sampai yang high-tech, kedua wabah ini menjalar dari Negara yang masih berkembang sampai ke Negara-negara maju seperti AS dan Eropa misalnya.
Intinya, saya ingin mengatakan, kalau anda pebisnis apakah anda produsen kunci gembok, sandal jepit, keramik, furniture, sepatu, baju, lemari es, AC, TV, mobil, mesin industry, dan lain sebagainya- anda harus bersiap-siap menghadapi serangan produk murah china. Cepat atau lambat, wabah ini akan menyerang dan menggerogoti profit anda. Ia akan melumpuhkan daya saing bisnis yang mungkin telah lama anda bangun. Tahun 2007, businessWeek cover story yang secara memikat mengulas ketakutan AS terhadap serangan produk china. Majalah tersebut menyebut “the China Price” sebagai tiga kata yang paling ditakuti para pebisnis dan industrialis AS. Ketakutan ini muncul karena hingga kini banyak”korban berjatuhan” perusahaan-perusahaan yang terpaksa gulung tikar karena tak tahan serangan-serangan produk murah China. Kalangan bisnis AS memang mengkhawatirkan keroposnya landasan industry mereka oleh serangan produk murah china.
Menarik sekali mengamati bagaimana China mampu membuat mulai dari sendok garpu hingga microchip sedemikian murah. Pertama, tentu saja karena tenaga kerja yang murah, berkisar 120 dollar AS per-bulan untuk karyawan pabrik dan 2000 dollar AS per-bulan untuk desainer microchip. Yang menarik, untuk kasus China, tenaga kerja murah ini ada disetiap rantai produksi. Jadi, baik disisi hulu maupun disisi hilir upah tenaga kerjanya sangat murah sehingga secara total si produsen mendapatkan harga yang super murah. Efisiensi biaya tenaga kerja terjadi di sepanjang rantai nilai produksi.
Kedua, ukuran pasar yang demikian besar, yang memungkinkan produk China di buat oleh pabrik-pabrik raksasa dengan skala ekonomi yang sangat efisien. Untuk pasar domestic saja, China memiliki pasar 1,3 miliiar orang, yang semuanya butuh makan, sepatu, pakaian, dan lain-lain. Sebagai perbandingan untuk produk furniture yang ada dinegara lain, pabriknya umumnya memperkerjakan 500 orang tenaga kerja, sedangkan di China pekerjanya bisa mencapai puluhan ribu orang. Dengan jumlah pekerja sebanyak itu bahkan bisa membangun pabrik pesawat sekelas boeing 747 sekalipun. Oleh karena skala produksi yang sebesar itu tak heran kemudian harga mampu diapangkas 40%-50%.
Yang ketiga, ini menurut saya yang paling menarik, karena persaingan antar produsen di China sendiri sudah sangat sengit dan keras. Persaingan yang sangat sengit dank eras ini mendorong efisiensi dan produktivitas para produsen, yang ujung-ujungnya membuat harga semakin terjunbebas lagi. Sudah upah murah, skala ekonomi sangat efisien, ditambah persaingan yang sangat sengit pula. Maka, bisa anda bayingkan kemampuan produsen China dalam memangkas harga. Ini merupakan penyebab yang para pakar ekonomi sebutkan sebagai “global deflation” atau penurunan harga-harga produk di seluruh dunia.

serangan produk cina memang harus disikapi dengan bijak. mestinya ini menjadi perhatian pemerintah untuk meningkatkan produk dalam negeri.
btw. saya malah pernah mendengar, ada banyak perusahaan di cina yang kepemilikan saham terbesarnya justru berasal dari negeri ini.
@ BaNi MusTajaB : kang klo boleh klo ada data2-nya bahwa banyak perusahaan di cina yang kepemilikan saham terbesarnya dari negi ini boleh bagi-bagi datanya gituh..