MARKETING TO MOM
MARKETING TO MOM
Seorang ibu tidak hanya mengendalikan pembelian anak-anak dan suaminya, namun ia juga menicu adanya domino effect, di mana sang ibu memngaruhi pembelian keluarga liannya, termasuk para tetangga. Ibu juga ternyata menjai pengambil keputusan yang dominan untuk pembelian beragam produk.
Tahun 2005 Markplus&co telah melakukan riset intensif mengenai nilai-nilai dan perilaku kedua gender, wanita dan pria, dalam hal berbelanja. Hasil dari riset tersebut telah di tuangkan dalam dalam buku Winning the Mom Market in Indonesia : Strategi membidik pasar ibu. Dalam buku ini, para pemasar diajak bersafari kedalam dunia Ibu, sebuah dunia yang sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi kita namun masih sedikit di pelajari. Padahal, ibu merupakan sosok yang paling menentukan dalam pengambilan keputusan belanja rumah tangga.
Sekarang Read more…
Categories: Pemasaran Tags: ARTIKEL PEMASARAN, marketing perempuan, marketing to mom, Pemasaran untuk kaum ibu, pemawaran untuk wanita, segmentasi pasar emosional, segmentasi pasar ibu
“THE CHINA ATTACK”
“THE CHINA ATTACK”
Produk-produk murah china telah merambah ke hampir semua sector industry di Indonesia. Mulai dari yang low-tech sampai hi-tech. perusahaan-perusahaan di Indonesia harus bisa mengantisipasi dengan melakukan efisiensi di sepanjang rantai nilai produksi agar juga bisa menghasilkan produk murah berkualitas.
Beberapa minggu yang lalu cari buku ke JACC skalian mampir ke pasar tanah abang, saya lumayan ngiler & takjub, karena mendapati produk garmen dengan aneka model menawan, berkualitas baik, namun dengan harga yang tidak masuk akal atau kelewat murah jika kita membandingkan dengan produk sejenis bada produsen. Celana kain berserat wol dengan kualitas oke misalnya, dibandrol dengan harga dibawah Rp. 100.000 per potong. Kemeja atasan wanita dari bahan katun kualitas baik di jual Rp. 50.000, semua produk super murah itu berasal dari negri panda ( China ).
“Tragedi”<<lho kok tragedy sich, iya nih mungkin karena ketakutan para pengusaha kiita dan masyarakat terhadap serbuan produk china>> menjalar ke berbagai sector industry, fenomena ini juga dapat dikatakan wabah, “wabah serangan produk cina tepatnya”. Mengapa saya sebut wabah? Sebab seperti umumnya penyakit yang mewabah, pengaruh buruknya mengalir kemana-mana. Pertama, menjalar keberbagai industry, mulai dari yang low-tech sampai yang high-tech, kedua wabah ini menjalar dari Negara yang masih berkembang sampai ke Negara-negara maju seperti AS dan Eropa misalnya.
Intinya, saya ingin mengatakan, kalau anda pebisnis apakah anda produsen kunci gembok, sandal jepit, keramik, furniture, sepatu, baju, lemari es, AC, TV, mobil, mesin industry, dan lain sebagainya- anda harus bersiap-siap menghadapi serangan produk murah china. Cepat atau lambat, wabah ini akan menyerang dan menggerogoti profit anda. Ia akan melumpuhkan daya saing bisnis yang mungkin telah lama anda bangun. Tahun 2007, businessWeek cover story yang secara memikat mengulas ketakutan AS terhadap serangan produk china. Majalah tersebut menyebut “the China Price” sebagai tiga kata yang paling ditakuti para pebisnis dan industrialis AS. Ketakutan ini muncul karena hingga kini banyak”korban berjatuhan” perusahaan-perusahaan yang terpaksa gulung tikar karena tak tahan serangan-serangan produk murah China. Kalangan bisnis AS memang mengkhawatirkan keroposnya landasan industry mereka oleh serangan produk murah china.
Menarik sekali mengamati bagaimana China mampu membuat mulai dari sendok garpu hingga microchip sedemikian murah. Pertama, tentu saja karena tenaga kerja yang murah, berkisar 120 dollar AS per-bulan untuk karyawan pabrik dan 2000 dollar AS per-bulan untuk desainer microchip. Yang menarik, untuk kasus China, tenaga kerja murah ini ada disetiap rantai produksi. Jadi, baik disisi hulu maupun disisi hilir upah tenaga kerjanya sangat murah sehingga secara total si produsen mendapatkan harga yang super murah. Efisiensi biaya tenaga kerja terjadi di sepanjang rantai nilai produksi.
Kedua, ukuran pasar yang demikian besar, yang memungkinkan produk China di buat oleh pabrik-pabrik raksasa dengan skala ekonomi yang sangat efisien. Untuk pasar domestic saja, China memiliki pasar 1,3 miliiar orang, yang semuanya butuh makan, sepatu, pakaian, dan lain-lain. Sebagai perbandingan untuk produk furniture yang ada dinegara lain, pabriknya umumnya memperkerjakan 500 orang tenaga kerja, sedangkan di China pekerjanya bisa mencapai puluhan ribu orang. Dengan jumlah pekerja sebanyak itu bahkan bisa membangun pabrik pesawat sekelas boeing 747 sekalipun. Oleh karena skala produksi yang sebesar itu tak heran kemudian harga mampu diapangkas 40%-50%.
Yang ketiga, ini menurut saya yang paling menarik, karena persaingan antar produsen di China sendiri sudah sangat sengit dan keras. Persaingan yang sangat sengit dank eras ini mendorong efisiensi dan produktivitas para produsen, yang ujung-ujungnya membuat harga semakin terjunbebas lagi. Sudah upah murah, skala ekonomi sangat efisien, ditambah persaingan yang sangat sengit pula. Maka, bisa anda bayingkan kemampuan produsen China dalam memangkas harga. Ini merupakan penyebab yang para pakar ekonomi sebutkan sebagai “global deflation” atau penurunan harga-harga produk di seluruh dunia.
Categories: EKONOMI, Pemasaran Tags: AFTA, pasar bebas, pasar global, Pemasaran, produk cina, produk murah dari cina, serangan produk cina, yang membuat produk cna bisa murah
SYARI’AH MARKETING
SYARI’AH MARKETING
Priinsip-prinsip syari’ah harus dipasarkan secara strategis agar semakin bisa diterima oleh semua kalangan, bukan hanya kalangan muslim. Yang paling penting dilakukan adalah mengkomunikasikan syari’ah marketing ini sebagai sebuah model bisnis yang kemudian menerapkan taktik komunikasi yang lebih akrab untuk target market.
Prinsip-prinsip syari’ah harus dipasarkan secara strategis agar semakin bisa di terima oleh semua kalangan, bukan hanya kalangan muslim. Ada sebuah fenomena menarik yang dapat kita lihat dalam dunia bisnis di Indonesia dalam empat-lima tahun lalu, yaitu berkembangnya syari’ah marketing. Konsep syari’ah ini tidak hanya di terapkan dalam dunia perbankkan, namun juga merambah ke dalam dunia bisnis lainnya. Ihat saja pasar swalayan macan yaohan di Medan, pasar swalayan pertama di Indonesia yang menawarkan konsep syari’ah. Atau juga jaringan hotel sofyan yang juga sudah menerapkan konsep syari’ah. Dalam satu-dua tahun ke depan bukan tidak mungkin akan timbul pula restoran, salon, atau bengkel yang berbasiskan konsep syari’ah, dan belum lama di televisi sudah ada perumahan berkonsep syari’ah yang salah satunya berada di wilayah depok.
Mengapa syari’ah marketing ini berkembang demikian pesat?
Fakto utama dan pertama tentunya karena masyarakat Indonesia mayoritas muslim. Seseorang pada dasarnya tentu akan berupaya dengan sepenuh hati menjalankan apa-apa yang diyakininya. Banyak dari teman-teman saya yang notabene mahasiswa Universitas Islam Negri Syarifhidayatullah Jakarta yang merasa bersalah jika masih menabung di bank non syari’ah, factor lainnya adalah karena memang bisnis syari’ah ini dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan bisnis non-syari’ah. Dalam dunia perbankan, suku bunga simpanan yang rendah menjadi kurang menarik bagi nasabah. Sementara, suku bunga kredit malah dianggap terlalu tinggi. Karena itu banyak nasabah yang beralih ke perbanjan syariah dengan system bagi hasil yang dianggap menguntungkan dan adil.
Dua alas an tersebut sebenarnya juga bisa dianggap mewakili dua jenis pasar potensial bagi syari’ah yaitu pasar emosiaonal-spiritual dan pasar rasional. Pelanggan pasar emosional-spiritual adalah mayoritas kaum muslim. Karena keyakinannya yang sudah sangat dalam dan bahkan cenderung fanatic, mereka memilih pasar syari’ah. Mereka ini bisa dibilang captive market untuk pasar syari’ah, yang dimaksud captive market disini adalah pasar di mana konsumen potensial menghadapi jumlah sangat terbatas kompetitif pemasok; mereka satu-satunya pilihan untuk membeli apa yang tersedia atau untuk tidak membuat pembelian sama sekali. Pasar captive mengakibatkan harga yang lebih tinggi dan kurang keragaman bagi konsumen. Oleh karena itu Istilah berlaku untuk setiap pasar di mana ada monopoli atau oligopoli. Sementara pasar rasional merupakan pasar yang lebih mangandalkan pertimbangan rasional, mereka akan memilih syari’ah jika dianggap lebih menguntungkan secara finansial.
Pasar rasional inilah yang mungkin belum tergarap dengan baik. Mereka masih enggan berbisnis secara syari’ah karena mereka menganggap bisnis syari’ah ini identik dengan agama islam. Jadi, pasar syari’ah dianggap pasar yang “tertutup”untuk kalangan non muslim, yang pada dasarnya pasar syari’ah terbuka untuk siapapun. Padahal sistem bagi hasil merupakan salah satu elemen penting dari pasar syari’ah sudah sejak lama diterapkan dinegara-negara eropa, terutama inggris. Banyak yang mungkin tidak tahu, inti dari prinsip syari’ah itu sebenarnya sangat universal, yaitu kebaikan dan keadilan bagi semua orang.
Yang paling penting harus dilakukan adalah mengkomunikasikan syari’ah marketing ini sebagai sebuah model bisnis. Analisis bisa dilakukan dengan menggunakan tools yang biasa digunakan untuk membedah konsep bisnis lainnya, dengan demikian pasar yang rasional akan bisa menerima alas an-alasan logis dibalik penerapan syari’ah marketing. Secara lebih taktis, komunikasi yang dilakukan juga harus sebisa mungkin menggunakan bahasa-bahasa yang mudah dipahami oleh target market.
Perusahaan-perusahaan yang menerapkan syari’ah marketing juga bisa menerima karyawan-karyawan yang nonmuslim. Hal ini perlu dilakukan untuk menepis dan mengikis persepsi bahwa syari’ah marketing ini hanya milik umat muslim, semakin banyak orang dari berbagai kalangan terlibat, baik sebagai karyawan ataupun pelanggan, akan semakin baik bagi perkembangan syari’ah marketing tersebut. Perusahaan-perusahaan yang mampu melihat peluang pasar syari’ah diindonesiainilah yang akan mampu memperoleh keuntungan ditengah riuhnya kompetitif dalam dunia usaha.

