Babak baru Ical versus Sri Mulyani

oleh : RAHMAT ANDI

AKARTA – Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani terkait Aburizal Bakrie dalam kasus skandal Century ini menuai reaksi dari berbagai pihak. Situasi ini seperti membuka luka lama antara keduanya terkait beberapa hal yang membuat kedua tokoh tak beriringan. Apa dampak dari pernyataan Sri Mulyani terhadap pansus Century dan masa depan koalisi SBY-Boediono?

Dalam wawancara khusus Sri Mulyani dengan media The Wall Street Journal, Kamis (10/12), secara terang-terangan Sri Mulyani menyebut nama Aburizal Bakrie sebagai pihak yang tidak senang pada dirinya. Pernyataan Ani terkait pembentukan pansus angket century sebagai upaya rival politiknya untuk menyingkirkan dari pemerintahan. “Aburizal Bakrie tidak bahagia dengan saya. Saya tidak berharap orang Golkar akan adil atau baik terhadap saya,” ujarnya.

Dalam wawancara tersebut, Sri Mulyani menyebutkan beberapa hal yang membuat dirinya dan Ical tidak satu paham. Hal ini berawal dari anjloknya Indeks Saham Gabungan (IHSG) pada masa krisis finansial pada 2008 lalu. Kala itu, saham PT Bumi Resource milik keluarga Bakrie, juga mengalami kemerosotan hingga 1.300. Saat itu, pemerintah sempat mengeluarkan kebijakan penghentian perdagangan sementara (suspensi) terhadap Bumi, meski Menkeu Sri Mulyani kala itu ngotot tidak setuju dengan suspensi Bumi

Merespons pernyataan Sri Mulyani terkait Aburizal Bakrie, sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham yang juga ketua Pansus Angket Century menegaskan sebaiknya Sri Mulyani tidak perlu grogi dengan adanya angket Century. “Saya kira terlalu berlebihan, mestinya Bu Ani tidak usah grogi, tidak usah khawatir kalau memang merasa benar. Kita tunggu pansus ini saja,” ujarnya, sore ini.

Menurut Idrus, pansus sama sekali bukan media balas dendam antara Aburizal Bakrie terhadap Sri Mulyani. Terkait dengan persoalan Bumi saat krisis finansial 2008 lalu, dirinya tak tahu menahu. “Saya jamin 1000% tidak ada dendam. Saya juga tidak tahu soal Bumi. Tidak pernah sedikitpun soal itu, Ketua Umum kami menegaskan, ungkap masalah ini seobyektif karena itu berangkat dari data dan fakta. Jangan pernah menargetkan orang, kalau pun ada orang, akibat dari data dan fakta yang muncul. Itu merupakan tanggungjawab dari proses itu,” paparnya.

Lebih lanjut Idrus menegaskan, tuduhan terhadap pansus Century sebagai upaya politik terhadap Sri Mulyani sama saja membuat semangat pansus Century mundur. Menurut dia, apa yang dilakukan melalui pansus Century sama sekali tidak ada kepentingan yang sifatnya pragmatis. “Jadi kita balik bertanya, apakah pertanyaan seperti itu agar membuat semangat kami mundur itu tidak mungkin mundur,” cetusnya.

Sementara ketua fraksi Partai Demokrat Anas Urbaningrum menanggapi perseteruan Aburizal Bakrie dan Sri Mulyani dengan enteng. Menurut dia, sebaiknya masalah kedua orang tersebut dapat diselesaikan secara adat. “Secara etika tidak baik kalau mengomentari hal itu. Kedua beliau saya kira saling kenal, ada baiknya diselesaikan secara adat,” ujarnya.

Terkait tudingan Sri Mulyani bahwa Pansus Angket Century hanyalah upaya politik rival politiknya, Anas menegaskan, pihaknya akan berusaha bekerja secara obyketif berdasar fakta dan data yang benar. “FPD akan berikhtiar sekeras mungkin dan bekerja secara onyektif dan berdasar fakta,” tandasnya.

Idrus dan Anas bersepakat, pernyataan Sri Mulyani tentang Aburizal Bakrie sama sekali tak mempengaruhi koalisi yang dibangun antara Partai Golkar dan Partai Demokrat di pemerintahan SBY-Boediono. “Ndaklah (mempengaruhi koalisi Partai Golkar-Partai Demokrat), apa kepentingannya,” cetus Idrus. Hal senada ditegaskan Anas, pernyataan Sri Mulyani sama sekali memiliki korelasi terhadap koalisi pemerintahan SBY-Boediono.

Curahan hati Sri Mulyani di media asing jelas bakal memanaskan situasi politik nasional. Apalagi, figur yang disinggung Sri Mulyani merupakan ketua umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie. Sebagaimana diketahui, Partai Golkar menjadi kekuatan kedua di parlemen. Apalagi, dalam Pansus Angket Century ini, kader Partai Golkar menjadi Ketuanya. Inikah isyarat perang terbuka Sri Mulyani dengan Paryai Golkar? Kita lihat saja.

Andai Sri Mulyani Harus Diganti

Oleh: P.M. Erza Killian

Dosen Jurusan Ilmu Hubungan Internasional

Universitas Brawijaya, Malang

KITA menginginkan negara melakukan fungsi melindungi kita. Namun, ternyata negara berkhianat dan justru memeras rakyatnya sendiri. Jangan lupa, apakah itu pasar bebas atau negara, mereka bisa menciptakan keadaan negatif kalau tanpa dicek… (Sri Mulyani Indrawati, 2009)

Karir Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati semakin berada di ujung tanduk. Setelah rakyat dan beberapa partai besar beramai-ramai mendesak Sri Mulyani dan Boediono dinonaktifkan selama masa penyelidikan Pansus Century, Sri Mulyani kembali menjadi musuh publik. Itu terjadi sesudah muncul rekaman percakapan yang ditengarai sebagai dialog antara dia dan Robert Tantular untuk “mengondisikan” proses bailout Bank Century.

Masalah yang terus-menerus muncul dan menyudutkan Sri Mulyani itu sangatlah mungkin menuju pada pencopotan dia sebagai Menkeu. Sangat tragis jika karir salah seorang menteri keuangan terhebat yang pernah dimiliki Indonesia tersebut harus berakhir dengan citra negatif.

Kepercayaan Internasional

Sri Mulyani adalah salah seorang tokoh utama dalam pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Indonesia selama minimal empat tahun terakhir. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia mengakumulasi cadangan devisa tertinggi yang pernah diraih, yakni USD 50 miliar. Juga, berhasil mengurangi angka utang publik secara signifikan sehingga meningkatkan kredibilitas Indonesia di mata internasional dan investor asing.

Sebagai individu, Sri Mulyani juga berhasil memperoleh pengakuan dan kepercayaan internasional dengan berada di posisi ke-23 dalam daftar 100 wanita paling berpengaruh di dunia versi majalah Forbes pada 2008. Dia pun menjadi menteri keuangan terbaik dunia versi beberapa majalah regional dan internasional.

Dengan berbagai pencapaian dan kebijakannya, Sri Mulyani berhasil mengembalikan kepercayaan internasional terhadap perekonomian Indonesia dan meningkatkan kepercayaan investor asing hanya dalam kurun waktu empat tahun. Satu hal yang mungkin tidak akan dapat dicapai dengan mudah oleh pendahulu-pendahulunya.

Peran besar Sri Mulyani juga diakui oleh beberapa pelaku bisnis dan pengamat ekonomi internasional. Mereka menyatakan bahwa salah satu kunci utama keberhasilan perekonomian Indonesia dalam kurun waktu empat tahun terakhir adalah kepercayaan pasar internasional yang cukup besar terhadap tim ekonomi Indonesia yang dikendalikan oleh Sri Mulyani.

Sri Mulyani juga tokoh yang secara internasional dianggap paling berjasa dalam menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi global pada 2008 dan bahkan sanggup tetap mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 4,9 persen, angka pertumbuhan tertinggi di kawasan Asia Tenggara (Global Post, 2009). Selama kurun waktu kepemimpinannya, Sri Mulyani tidak hanya berhasil menumbuhkan kepercayaan dunia internasional yang sangat besar terhadap ekonomi Indonesia, tapi juga menciptakan kepercayaan dan ketergantungan dunia internasional terhadap dirinya dan kebijakan yang dibuatnya. Dapat dikatakan, Sri Mulyani adalah salah satu “jaminan” bagi kepercayaan dunia internasional atas kinerja ekonomi kita. Suatu peran berat yang akan sulit diikuti oleh para penerusnya.

PR Berat Pemerintah

Skandal yang melibatkan Sri Mulyani menyisakan PR yang sangat berat bagi pemerintah. Tidak saja bahwa pemerintah kembali menghadapi krisis kepercayaan dari dalam negeri, pemerintah juga sangat berpotensi menghadapi krisis kepercayaan dari dunia internasional. Akan sangat sulit menemukan orang yang dapat dengan cepat dan tepat menggantikan posisi Sri Mulyani di perekonomian kita dan tetap mempertahankan kepercayaan internasional atas kinerja perekonomian kita. Seperti yang dikemukan oleh David Fernandez, kepala bidang penelitian ekonomi Asia J.P. Morgan, tidak akan mudah menutup credibility gap yang akan muncul jika Sri Mulyani benar-benar berhenti.

Dengan kredibilitas yang dimilikinya, Sri Mulyani adalah salah satu “jaminan” yang dilihat oleh dunia internasional. Namun, di sisi lain, pemerintah Indonesia pun tidak akan mungkin membiarkan skandal Century yang ditengarai melibatkan Sri Mulyani lepas begitu saja karena berpotensi menghasilkan ketidakstabilan politik dan ekonomi.

Bagaimanapun hasil akhirnya nanti, dilema besar sedang dihadapi pemerintah. Jika pun Sri Mulyani sebenarnya tidak bersalah dan hanya menjadi korban, itu sudah sangat sulit dibuktikan di tengah pengadilan rakyat yang semakin marak. Melihat tren politik yang ada, sangat mungkin karir Sri Mulyani akan segera berakhir.

Jika nanti Sri Mulyani memang benar-benar diberhentikan, pemerintah harus segera memutar otak untuk mencari pengganti yang sekelas Sri Mulyani. Namun, itu jelas bukan hal yang mudah. Kepercayaan internasional atas kinerja Sri Mulyani adalah sesuatu yang dibangun selama bertahun-tahun. Karena itu, kita mungkin akan melihat penurunan kepercayaan (confidence) dari dunia internasional terhadap perekonomian kita.

Bagaimanapun, keadilan harus tetap ditegakkan. Jika Sri Mulyani memang bersalah, Indonesia tetap harus mengambil risiko demi sebuah keadilan. Sangat disayangkan bahwa skandal ini justru harus menimpa seorang menteri yang dulu dengan lantangnya mengatakan bahwa, “Saya ingin menjadi bagian dari pemerintah yang dipercaya oleh masyarakat. Saya tahu itu tidaklah mudah. Tapi, prinsip itu telah menjadi dasar bagi keputusan-keputusan yang saya ambil.” Apakah prinsip tersebut masih berlaku ataukah hanya tinggal retorika belaka?

Sangat mungkin kita akan segera memasuki babak baru dalam perekonomian kita. Era ekonomi Indonesia tanpa Sri Mulyani. Pertanyaannya, mampukah Indonesia bertahan dan melepaskan diri dari bayang-bayang Sri Mulyani?

SINI JUGAH…!!!

Leave a Comment