Gerakan politik menjatuhkan Boediono-Sri Mulyani kian gencar. Berakhir ke permakzulan?

By at 22 December, 2009, 10:07 pm

ni rumah Amien Rais. Di Gandaria, Kebayoran, Jakarta Selatan. Sepi berbilang bulan, rumah itu ramai Kamis sore pekan ini. Puluhan sepatu dan sandal jumpalitan di teras. Gerbang terbuka lebar. Orang-orang hilir mudik.

Di ruang tamu belasan orang meriung. Sebagian selonjor di ruang tengah. Tak ada perempuan sore itu, para tetamu langsung ke belakang mengambil minum bila dahaga. Mereka umumnya memakai jaket biru Partai Amanat Nasional (PAN). Adapula anggota dewan dari Senayan.

Lantaran suasana agak berisik, Amien mengajak VIVAnews meluncur ke belakang, ke ruang makan yang berukuran kecil. Amien Rais yang sore itu terlihat ceria dengan baju koko biru, memulai perbincangan dengan kisah tentang bisul.

Di tubuh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kata Amien, ada dua bisul besar. Dua bisul itu adalah Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Keduanya disebut bisul, sebab Mantan Ketua Umum Majelis Permusyawaratan Perwakilan Rakyat (MPR) ini meyakini bahwa Boediono dan Sri Mulyani berperan penting dalam Skandal Bank Century.

Skandal yang disebut Amien itu adalah proses penyelamatan Bank Century tahun 2008 yang kini menuai kontroversi. Saat proses penyelamatan itu berlangsung, Boediono menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia dan Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan (Baca: Drama Bail-out Century, Setahun Kemudian).

Century selamat tapi kursi Sri Mulyani dan Boediono kini terancam. Beberapa kelompok massa turun ke jalan. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sudah membentuk Panitia Khusus (Pansus) Angket Century. Mereka segera memanggil sejumlah pejabat tinggi yang terkait dengan penyelamatan Century itu.

Dari notulen rapat soal Century, tuduh Amien, “Boediono dan Sri Mulyani jelas sebagai pemutus kebijakan fatal yang mengakibatkan skandal perbankan.” Dan sebagaimana penyakit bisul yang bisa melemahkan daya tahan tubuh, lanjutnya, Boediono dan Sri Mulyani akan merontokkan daya tahan pemerintahan SBY.

Itu sebabnya, Amien mendesak, agar Boediono dan Sri Mulyani menepi sejenak dari pemerintahan alias non aktif. Dengan begitu aparat hukum bisa leluasa memproses keduanya. Lama menghilang dari panggung politik nasional, Amien Rais tiba-tiba muncul sebagai salah satu tokoh sentral kasus ini.

Entah bermaksud menyindir Amien Rais atau tidak, sebelum membuka rapat paripurna kabinet, Jumat pekan ini, Presiden SBY menuturkan bahwa kasus Century sudah diaduk-aduk begitu rupa. Bahkan ada tokoh yang selama lima tahun tidak bergigi menganyang korupsi, kini tampail lagi. “Selamat datang,” kata sang presiden.

Manuver Amien Rais dalam kasus ini memang terbilang menukik. Minggu, 29 November 2009, di rumahnya di Gandaria itu, dia menerima sembilan anggota DPR yang menjadi inisiator Angket Century. Di depan anggota dewan itu, telunjuk Amien sudah menunjuk Boediono dan Sri Mulyani sebagai orang yang paling bertanggungjawab.

Ketika Fraksi PAN membahas angket Century, Kamis 3 Desember 2009, Amien mendadak muncul di kantor fraksi partai itu di lantai 20 Gedung Nusantara I DPR RI. Mengenakan batik bernuansa abu-abu, dia memberi pengarahan kepada anggota dewan dari PAN.

Di situ Amien menegaskan bahwa Presiden SBY tidak dapat dimakzulkan begitu saja, kecuali kalau ada gempa politik. Tapi soal Boediono dan Sri Mulyani tidak ada tawar-menawar, non aktif. “Toh Wapres tidak mutlak dibutuhkan. Mbak Mulyani pun mempunyai Wakil Menteri Keuangan,” kata Amien.

Pengarahan Amien di Senayan itu tentu saja berbahaya bagi Boediono dan Sri Mulyani. Sebab nasib kedua petinggi itu juga akan ditentukan oleh proses yang kini berlangsung di sana.

*****

Di gedung wakil rakyat itu, kasus ini bergulir cepat. Setelah melewati rapat marathon delapan jam, voting yang alot, Panitia Khusus (Pansus) kasus Century akhirnya terbentuk. Idrus Marham dari Golkar memenangkan kursi ketua dengan meraih 19 suara. Jumlah itu jauh meninggalkan pesaingnya Gayus Lumbuun dari PDI Perjuangan. Gayus cuma didukung 7 suara. Setelah dibentuk, pasukan Pansus yang berjumlah 30 orang itu akan bergerak cepat.

Ke mana ujung kasus ini. Masih sulit ditebak. Sejumlah analis politik mensinyalir bahwa semua partai politik menyimpan agenda tersembunyi dengan kasus ini. Burhanuddin Muhtadi, analis politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) mensinyalir bahwa dari manuver yang terlihat, “Memang ada yang berkepentingan membidik SBY.”

Mereka yang berkepentingan membidik SBY itu adalah PDI Perjuangan, Partai Hanura dan Partai Gerindra. Tapi kekuatan kelompok ini tidak besar. Dalam Pansus mereka cuma punya 7 orang. Walau semenjak awal mereka solid—termasuk kompak memilih Gayus sebagai calon Ketua Pansus—kelompok ini tidak punya kekuatan yang sangat menentukan.

Jadi selamatkah pemerintahan SBY? Belum tentu juga. Sebab sejumlah partai pendukung SBY tidak begitu solid menghadapi kasus ini. Mereka memiliki bidikan sendiri-sendiri. Dan justru di situlah yang menjadi bagian tersengit dari kasus ini.

Burhanuddin mensinyalir bahwa pertarungan tersengit itu justru berlangsung di lingkaran paling dalam pemerintahan SBY. “Mereka hendak menaikan posisi tawar,” katanya.

Walau akan sekuat tenaga mempertahankan Presiden SBY, sejumlah kekuatan di partai koalisi tengah membidik Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Burhanuddin menyebut kelompok ini sebagai mengail di air keruh.

Jika Boediono dan Sri Mulyani terpental, lanjutnya, “Ada senior partai mereka yang jadi super minister, bahkan sudah mimpi jadi wakil presiden.”

Salah satu kandidat yang bisa didorong ke kursi menteri super atau dimimpikan jadi wakil presiden itu adalah Hatta Rajasa, petinggi Partai Amanat Nasional(PAN) yang kini menjadi Menteri Kordinator Bidang Perekonomian.

Gerilya Amien Rais yang terbilang kencang juga dicurigai dalam rangka meloloskan Hatta ke kursi wakil presiden itu. Tapi Amien membantah keras soal ini. (Baca: “Tak Ada Wacana Menaikkan Hatta”).

Hampir semua partai yang gigih meloloskan Pansus Century memberi jawaban bersayap soal Boediono dan Sri Mulyani ini. Dengar jawaban Maruarar Sirait, inisiator hak angket Century dari PDIP berikut ini. Ukuran kesuksesan angket, katanya, adalah kebenaran. Tapi, “Kalau kemudian ada yang bersalah, itu hanya akibat.”

Pernyataan yang hampir sama juga disampaikan Akbar Faisal, anggota Pantia Angket Century dari Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Mereka mengaku tidak punya target. “Bahwa nanti diujung kasus ini ada yang harus bertanggungjawab, itu adalah risiko,” kata Akbar. Hal senada juga disampaikan anggota fraksi Gerindra.

Fraksi Partai Golkar yang memenangkan kursi Ketua Pansus juga mengaku tidak berniat menyingkirkan Boediono dan Sri Mulyani dari pemerintahan. “Pembicaraan terakhir saya dan Pak Aburizal Bakrie (Ketua Umum Golkar), tidak ada terbersit pembicaraan dan niat menyingkirkan RI 2 (Boediono),” kata Priyo Budi Santoso, Ketua Partai Golkar. “Golkar juga tak berniat hantam Menteri Keuangan Sri Mulyani.”

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga mengaku tidak berniat menjungkalkan dua petinggi itu.
Tapi tidak ada harga mati dalam politik. Sejumlah pengamat menilai sikap partai politik itu juga akan ditentukan oleh gerakan di luar parlemen dan proses hukum atas kasus Century. Bila gerakan di luar parlemen bergemuruh kencang, bukan tidak mungkin mereka segera berganti sikap.

Aksi unjuk rasa soal Century ini memang meriah di sejumlah kota. Ada yang mengusung tema anti korupsi, ada pula yang menggusung target turunkan SBY, Boediono dan Sri Mulyani dari pemerintahan.

Saat rapat paripurna DPR, 1 Desember 2009, massa demonstran dari Serikat Konstituen Indonesia (SAKTI) berunjuk rasa di depan pintu ruang sidang, lantai 3 Gedung Nusantara II DPR RI. “Turunkan Boediono, turunkan Sri Mulyani, lengserkan SBY,” mereka berpekik. Tampak di antara mereka sejumlah dosen dan aktivis seperti Fadjroel Rachman.

Kelompok ini juga akan menghela massa besar-besaran pada Hari Antikorupsi Sedunia, Rabu 9 Desember 2009. Aksi unjuk rasa juga akan berlangsung di sejumlah kota di tanah air.

*****

Presiden SBY sendiri sudah bersiap menghadapi manuver lawan politik. Dia mensinyalir bahwa ada sejumlah orang yang memiliki motivasi politik dengan aksi unjuk rasa tanggal 9 Desember itu. Sebagian dari gerakan itu, katanya, tidak didorong oleh niat memberantas korupsi.
Tuduhan SBY itu dibantah sejumlah tokoh yang berencana ikut dalam gerakan ini.

“Sebaiknya SBY tidak usah panik,” kata Syafi’i Ma’arif. Ketua Umum Muhamadyah, Din Syamsuddin menimpali, “Yang tidak mendukung gerakan 9 Desember itu tidak antikorupsi.” Sejumlah aktivis yang bergabung dalam gerakan itu mengaku akan terus mengusung tuntutan agar Boediono dan Sri Mulyani diturunkan.

Soal desakan mundur itu, Boediono dan Sri Mulyani enggan menjawab. Mereka mendesak agar penyelesaian kasus ini dilakukan secara terbuka. “Cara itu yang akan menunjukkan masalah,” kata Sri Mulyani. Menteri Keuangan ini mengaku sudah bekerja sesuai Undang-undang.

Gerakan untuk menjungkalkan Boediono dan Sri Mulyani terkait kasus ini dikecam sejumlah kalangan. Ekonom Fasial Basri mendesak Pansus Century untuk mengurai kasus ini secara teliti.

Kalau yang dibidik Boediono dan Sri Mulyani, itu jelas salah sasaran. Dan jika dipaksakan terus ini cermin politik tidak bermutu. “Maunya kocok ulang terus,” kata Faisal.

Incoming search terms:

Categories : indo


No comments yet.

Leave a comment