NoveL dan Cerpen

Cerpan Primordial

Langit Tak Berawan

Seharian aku berada di depan komputer dan kubuka berbagai situs yang mencantumkan lowongan pekerjaan lulusan Diploma III Broadcasting. Maklum, di usiaku yang kukira telah melewati detik-detik keremajaan membuatku menginginkan pekerjaan ini. Memang tidak mudah bagiku dengan apa yang telah aku dapatkan sekarang, berawal dari pilihan studi semasa High School sampai keputusanku untuk mengambil Jurusan Ilmu Komunikasi di kampus Indonesia. Banyak sekali pengalaman yang kupetik, di lain pihak beberapa orang temanku memutuskan untuk cuti dan beralih menjadi penyiar radio. Sempat aku berpikir yang sama dengan mereka tetapi yang kutakutkan adalah butiran harapan orang tuaku di Oxford sana, dan apa kata paman dan bibiku disini yang selalu antusias mendukungku. Kata yang terucap oleh mereka adalah cambuk bagiku.

Dalam keluarga, aku adalah anak tertua dengan menyandang nama Sandrina. Memunyai seorang adik laki-laki yang berselisih 14 tahun dariku. Ayahku adalah pengusaha transformasi bahan wol exporter yang sukses di kota London, dan ibuku adalah presenter di sebuah Stasiun TV swasta di Nottingham. Ya, mungkin penyebab itulah ibuku menginginkan aku lebih berhasil darinya. Masa kecilku kuhabiskan di Oxford sampai suatu ketika urusan menyangkut pengiriman, ayahku diutus untuk menjadi supervisor production di Indonesia ketika aku lulus sekolah. Ayahku menitipkan aku di rumah paman dan bibiku yang berprofesi sebagai dosen. Darah Indo-Englandku tidak pernah kupusingkan. Setelah urusan ayahku selesai ± 1 tahun, ia kembali lagi ke London dan aku mengambil tindakan terbaik untuk tetap bersekolah di Indonesia di bawah naungan pemerintah negaraku. Kusesalkan apabila kuliahku terbengkelai.

Dari rumah pamanku menuju kampus tidak begitu jauh dan biasanya kami berangkat bersama di universitas yang sama. Hanya saja mereka mengajar di Jurusan yang berbeda. Naluri paman tertarik pada Aritmatika dan bibiku lebih peka pada alunan nada. Itulah alasan yang membuatku lebih lama ingin berada di sini. Di kampus aku dibekali cara baik dalam berbicara sampai menginterview tokoh ternama.

Sampai tiba saatnya, universitasku mengirimkan 20 mahasiswanya ke sebuah perusahaan asing dengan dimotorik oleh beberapa manager. Disana, terdeteksi adanya kasus kriminal penggelapan uang deviden produksi. Kami bertugas menyiarkan kejadian itu dengan dibantu para wartawan sebagai mediatornya. Belum sepenuhnya tugas kami selesai karena para terduga banyak yang kembali ke negeri asalnya. Dengan dibantu polisi, ketiga terdakwa masih dalam tahap pencarian.

Kegentingan itu kurasakan hanya terpaan angin sore yang hanya terasa sekejap. Yah, maklumlah Indonesia kuakui memang negara hukum. Tetapi banyak sekali aparat keamanan yang kurang diperhatikan pemerintah Indonesia di berbagai hal yang menjadi lambannya proses pengadilan. Berbeda dengan di England, para police yang diayomi oleh pemerintah daerah diperhatikan keluhannya dan tegas dalam memberikan sanksi.

Kesenjaan hari kubalas dengan matinya komputerku. Sejauh ini belum adanya pekerjaan yang pas buatku. Pikiranku berputar-putar dan kubayangkan email yang kuterima esok hari pekerjaan bagus mengincarku. Walaupun negara ini bukan tanah kelahiranku tetapi ada ketukan batin yang membuatku mengembangkan kewargs-negaraan paman-bibiku. Akupun terlelap dalam mimpi. Sengatan matahari pagi menyelinap di jendela kamarku, mambangunkan tidurku. Kulihat meja makan sudah tertata rapi menandakan bibi sudah menyiapkan sarapan untuk kami. Setelah kurapikan kamar, kunyalakan komputerku. Disana kulihat ada empat email yang masuk. Kubuka satu persatu dan kubaca. Pertama, kiriman dari cakrawala vision yang membutuhkan latar belakang pendidikan sepertiku sebagai penyiar Live berita acara dengan tawaran gaji yang lumayan. Kedua, masih ada hubungannya dengan email pertama hanya perbedaanya dari stasiun Karang Biru dengan gaji yang tak seberapa. Ketiga, dari sebuah lembaga sosial yang membutuhkan penyalur humas gaji bertaraf internasional. terakhir kuperhatikan baik-baik email ini aneh ..!! Sebuah surat lowongan untuk menjadi pengganti dosen sementara di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan. Sekali lagi kubaca isinya tapi tak ada kesalahan dari alamat pengiriman. Aku benar-benar belum paham dengan maksud semua ini.

Keesokan hari kupersiapkan baik-baik persyaratan yang dibutuhkan. Kakiku segera melangkah ke garasi belakang. Kunyalakan dan kukemudikan mobilku menuju alamat yang tercantum di jertas yang telah ku-print dari emailku yang keempat. Perjalanan memang cukup jauh. melewati bundaran HI yang sangat macet sehingga menghabiskan waktu 1½ jam di jalan.

Akhirnya, sampai juga ke tujuan. bangunan modern yang sangat luas dengan ditamani pohon cemara sebagai pembatas antar fakultasdan kulihat para mahasiswa mengenakan jas ungu tua berlalu lalang. Kutapaki jalur dan mataku tertuju pada bagian sekretariat ilmu kesehatan dan aku menghadap ke bagian yang bersangkutan. Di ruangan rektor aku masuk. Kobaca papan nama di meja kerjanya, dr.Bima Arteri S.Ked, Sp.PD. Setelah kuucapkan salam pia itu membalikkan badan dari kursi kerjanya. Pria itu masih terlihat muda yang kuperkirakan umurnya hanya terpaut sedikit dariku. Kami pun berbicara panjang lebar dan ternyata ia tertarik menjadikan aku sebagai asistennya karena melihat performance ku di berbagai acara TV yang pernah mempekerjakan aku. Baginya hal ini tidak perlu kupusingkan karena di setiap acara yang kusiarkan berhubungan dengan dinamika ekonomi. Tanpa berpikir panjang kuterima pekerjaan ini. Kulajukan kembali mobilku dan kembai ke rumah.

Batapa senangnya aku, tak disangka semudah ini aku mendapatkan pekerjaan yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Sudah kupersiapkan kata-kata apa yang akan kuucapkan pada paman dan bibiku. Tiba saatnya mereka menanggapi semua penjelasanku dengan raut muka tak percaya tetapi mereka sadar bahwa setiap manusia bisa mendapatkan keberuntungan. Selain itu paman merencanakan pesta sebagai ungkapan terima kasihku kepada Tuhan yang telah memberi jalan terbaik untukku. Ditambah bibiku yang mengundang beberapa rekannya untuk menyempurnakan acaraku di sebuah tempat yang menyejukkan di puncak. Selain itu bibiku mendatangkan beberapa koki yang professional dari negara asalku untuk menambah nikmatnya pesta kami.

Tak kalah sibuknya, akupun menekan nomor-nomor temanku di Jakarta, di Oxford, dan terakhir nomor rumahku disana. Dindo, adikku yang pertama kali mengangkat telfonnya, kukira adikku belum mengerti akan pembicaraanku nanti. Kusuruh ia memberikan telfonku pada ayah atau ibuku. Sejenak kudengar suara jelas dan lembut. Kupastikan itu suara ibuku dan kujelaskan semuanya. banyak sekali pertanyaan yang ibuku ajukan dan kutepis pertanyaan itu dengan alasan-alasan yang tepat. Akhirnya, batu di hati ibuku pun rapuh. Tapi anehnya setelah semuanya dapat diterima, isak tangis terdengar dari saluran telfon. Tidak biasanya ibuku menangis karena ibuku adalah pribadi yang tegar dalam menghadapi ujian. Sedikit demi sedikit ibuku bercerita seiring dengan itu darahku mendingin dan jangtungku terasa lemah, kabarnya ayahku dua minggu yang lalu Police Resort di Oxford menangkap ayahku dengan surat perintah dari Indonesia yang diduga White Collar Crime dengan tuduhan penggelapan uang deviden produksi yang hampir setengah tahun yang lalu jaksa Indonesia menutup kasus ini…!!! Tak kusangka masalah yang pernah kudengar saat itu di perusahaan asing yang masih mencari tiga manager itu salah satunya adalah ayahku. Satu ungkapan terucap dari bibirku ”Tak Kuduga…” Saat itu juga jantungku berhenti ……!!!!!!!???????_ _ Dengan segera kupergunakan Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 milik papaku.

Rina Dwihana Fitriani

Mahasiswi Hub. Internasional semester III

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

lihat profil penulis klik di disini

UNTUK DONASI HASIL KARYA, SILAHKAN MENGUNJUNGI HALAMAN IKLAN DI BAWAH INI..!!

HANYA LIHAT2 SAJA SETELAH ITU TERSERAH ANDA..