
The Samsung Way
Samsung merupakan perusahaan yang bisa menjalankan proses transformasi, branding, dan inovasi sehingga mampu berubah dari sebuah underdog brand menjadi well-respected brand; yang sejajar ;dan bahkan telah melampaui brand lain yang sudah mapan
Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, Samsung masih dikenal sebagai perusahaan yang memproduksi televise dan microwave dengan harga murah. Bahkan saat krisis ekonomi yang melanda Asia termasuk korea selatan, Samsung hamper bangkrut. Namun sekarang Samsung adalah perusahaan paling dikenal dan paling dihormati oleh kalangan industry di seluruh dunia. Samsung termasuk dalam Top 20 brands versi majalah businessweek dan interbrand, melampaui peringkat rivalnya sony. Samsung juga termasuk Top 20 Innovative companies di dunia bersama-sama sejumlah merek terkemuka lainnya seperti apple, nokia, Toyota, GE, Microsoft, P&G, BMW, dan sebagainya.
Layaknya para chaebol. Samsung juga berkeinginan untuk berdiri sama tinggi dengan perusahaan-perusahaan dari jepang. Pada tahun 2002, majalah times pernah menulis bahwa Samsung pernah berkeinginan untuk menyalip sony dalam masalah brand recognition pada tahun 2005. Sejak awal 2000-1n ini, Samsung bukan lagi sekedar memproduksi versi murah dari sejumlah produk buatan jepang, terutama sony. Samsung telah berhasil memproduksiproduk-produk yang memang di butuhkan dan diinginkan konsumen. Pada tahun 2003, Samsung telah berhasil meraih market leadership pada sejumlah rangkaian produk digital consumer electronic. Antara lain pada perangkat telepon seluler, LCD display, flash memory, televise layar lebar, DRAM chips, MP3 player, DVD player, dan oven microwave.
Pada tahun 2004, Samsung telah mendekati rival terdekatnya, sony. Sebagai perusahaan consumer electronic terkemuka di dunia. Samsung bahkan telah menjadi produsen terkemuka dari berbagai perangkat digital, dan pada tahun 2005, berdasarkan laporan Koran New York Times, nilai saham Samsung menunjukan tren yang terus meningkat sejak tahun 2001 sampai akhir 2004, sementara saham sony justru menunjukkan Read more…
CULT BRAND
Cult brand terjadi ketika brand tersebut memang sudah memiliki pengaruh yang sangat besar secara kejiwaan dan perilaku bagi para pelanggannya. Keterikatan emosional yang sangat erat antara pelanggan dan brand inilah yang menjadi kekuatan utama dari sebuah cult brand.
Cult baranding atau ada juga yang menyebutnya spiritual branding, sedang sangat menarik dibahas saat ini. Banyak literature yang membahas mengenai cult branding ini, dan definisinya juga berbeda-beda, diantara lain:
- Ada yang mengatakan brand yang sangat populer dapat dikatakan cult brand
- Ada yang bilang kalau brand itu memiliki nillai emosional yang sangat tinggi dianggap sebagai “cult brand”
- Ada juga yang mengatakan bahwa cult brand adalah brand yang dapat menggerakan massa dalam jumlah besar untuk melakukan aktivitas secara bersama-sama.
Dari segi kejiwaan, brand memiliki nilai emosional yang sedemikian kuat sehingga pemakai benar-benar memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap brand tersebut. Ikatan emosional ini terdiri dari dua aspek yang harus ada, yaitu :
- Empati terhadap brangd “saya bersimpati kepada bob marley yang menentang terjadinya perang, dan mengimpikan bumi yang penuh dengan kedamaian”
- Self-concept : baik yang bersifat self-identification (identifikasi diri :”saya menggunakan apple macintosh karena sesuai dengan kepribadian saya”), maupun self-aspiration (“Saya mau menjadi bintang Indonesian idol”)
Perlu dicatat bahwa semata-mata bangga mengunakan sebuah brand bukanlah aspek emosional yang dimaksud. Misalnya : “saya menunjukan kepada orang lain kalau saya mengapresiasi music Bob marley, karena saya ingin dianggap sejalan dan sepemikiran dengan Bob marley”. Yang seperti ini menurut saya belum mengarah ke cult branding, menurut saya yang seperti ini hanya sekedar ikatan emosional ”status comcern” atau kebanggaan semata, bukan cult-driven.
Dari segi perilaku brand tersebut dapat mempengaruhi orang, tidak harus konsumen atau pengguna-untuk melakukan sesuatu diluar aspek fungsional brand tersebut. Jadi, perilaku orang tersebut digerakan oleh brand-nya sendiri, bukan karena fungsi dari brand tersebut, contoh :
- Pemilik Harley Davidson berkumpul karena Harley-nya. Thunder-ridars berkumpul karena Thunder.
- Pembaca harry potter yang berkumpul untuk membahas rahasia yang terpendam dalam buku harry potter terbaru.
- Pemirsa the Master yang dengan antusias mengajak teman-temannya melakukan dukungan melalui SMS.
Sedankan, sejumlah perilaku yang nampaknya digerakan oleh brand namun sebenarnyadi gerakan oleh fungsionalitas dari produk adalah:
- Pemilik nokia berkumpul untuk download ringtone atau berbagi melalui blue tooth.
- Konsumen Dji sam soe yang membuka bungkus dengan cara yang berbeda-beda
- Sampoerna A-mild yang menyelenggarakan konser yang bisa mendatangkan ribuan penonton (bukan brand-driven, tapi functionality-driven, yaitu digerakan oleh event-nya)
Jadi, harus dibedakan perilaku yang benar-benar brand related atau functionality/product related semata. Jika kita terbiasa membeli buku di Gramedia atau selalu minum the botol sosro, itu merupakan kebiasaan(habit)seorang konsumen, bukan indikasi adanya “brand-driven” dalam arti yang relevan dengan “cult branding”.
Perlu juga dicatat bahwa keberadaan brand sebagai sebuah “cult” tergantung dari si konsumen sendiri. Seperti dalam contoh Harley Davidson yang dicontohkan diatas dapat dikatakan cult brand, itu karena saya menduga kebanyakan dari Harley-riders/owners memang menganggap Harley pada posisi tersebut. Namun banyak juga Harley owners yang menggunakan brand tersebut sebagai lambing “macho” atau “kepemilikan” semata, bagi yang menganggap seperti itu Harley hanya merupakan symbol atau pengakuan saja.
Pemahaman tentang brand ini memang sangat membingungkan. Namun, bagi orang marketing/branding. Ia harus melihat dengan teliti dan mendalam mengenai keberadaan sebuah brand, karena branding iniadalah masalah yang sangat delicate, sangat sensitive terhadap perubahan, dan dampaknya besar terhadap keterlibatan dari para konsumen. Dan bila sebuah brand telah menjadi cult brand tentunya hal ini sangat menguntungkan, karena perusahaantidak perlu terlalu capek-capek dalam mengurusinya, karena sudah ada sejumlah pelanggan yang tanpa dipaksa akan mengembangkan brand tersebut lseperti mengembangkan anaknya sendiri, karena adanya keterikatan emosional yang sangat kuat.
Categories:
BRANDS Tags:
brand analysis, brand building, brand company, brand experience, brand management, brand marketing, brand name, brand positioning, brand research, brand strategy, branded, branding, BRANDS, corporate branding, marketing brand, strategi merek, strategic brand management
KONSUMEN YANG SEMAKIN MENENTUKAN
Di took wall-mart di Amerika, di dalamnya ada spanduk yang bertuliskan :”customer is our boss!” maksudnya sudah tentu, para pelanggan took yang disebut super-store itu dijamin kepuasannya, mengapa? Karena merekalah bos yang sesungguhnya.
Dalam konsep customer satisfaction, karyawan perusahaan selalu diajari bahwa ”customer is the real boss” . di Indonesia, simpati air selalu mengingatkan karyawan akan hal tersebut dengan cara yang unik. Setiap bulan di amplop mereka ada tulisan yang bermakna bahwa : “ gaji ini berasal dari para penumpang”
Dengan begitu, diharapkan mereka lebih giat melayanai penumpang daripada melayani atasan mereka sendiri. Hero supermarket yang dianggap sebagai chain-supermarket paling sukses di Indonesia mempelopori Hero Customer club. Melalui club itu, hero dapat menjalin kontak dengan para pelanggannya dengan sangat efektif. Semua informasi pribadi di catat dan dimasukkan ke dalam data base.
Karena itu, hero mempunyai kesempatan mengeahui kebutuhan mereka secara individual. Sedang Singapore airlines menjadi sangat terkenal di seluruh dunia, karena pelayanannya kepada pelanggan yang menjadi ‘referensi’ bagi perusahaan penerbangan lain.
Pertranyaan yang timbul adalah, “mengapa customer mendadak menjadi begitu penting dan akan makin penting seterusnya? Tak pelak lagi, itulah hasil pekerjaan ketiga change-driver , yaitu : tekhnologi, ekonomi, dan pasar.
Perubahan tekhnologi informasi yang demikian dahsyatnya, menyebabkan informasi dapat dengan mudah diperoleh, diolah dan disalurkan ke mana pun. Dunia seolah-olah menjadi sangat transparan sehingga tidak ada lagi yang dapat disembunyikan. Seorang konsumen yang memperoleh informasi dengan cara yang lebih mudah menjadi konsumen yang tercerahkan.
Istilah enlightened sering digabung dengan istilah leader untuk menggambarkan seorang pemimpin yang sudah “cerah”. Seorang pemimpin yang sudah tahu betul bagaimana memimpin dengan benar sesuai dengan jamannya. Dalam buku enlightened leadership. Ed Oakley dan doug krug mendefinisikan seorang pemimpin yang tercerahkan adalah pemimpin yang tidak hanya punya visi tapijuga punya kemampuan agar anggota organisasinya ikut memilki visinya. Dengan demikian, dia bisa mengembangkan suatu komitmen dalam perusahaan untuk mencapai visi tersebut secara penuh.
Seorang enlightened custonmer juaga begitu! Dia bukan seorang customer yang gelap seperti dulu. Tapi dia punya pandangan jauh kedepan dan bisa mempengaruhi orang lain supaya bisa ikut percaya pada visinya itu. Seorang konsumen yang tercerahkan adalah seorang konsumen yang dalam menentukan pilihan pembeliannyaselalu memakai pertimbangan jangka panjang. Pelanggan yang seperti ini mampu melakukan hal tersebut karena telah well-educated.
Dia biasanya juga sudah sadar lingkungan atau paling sedikit sudah sadar kesehatan. Konsumen seperti ini sudah berbeda dengan konsumen “tradisional” dalam pengambilan keputusan. Karena pandangannya pun sudah berbeda lebih logis, luas, lebar, dan jauh ke depan.
Sedangkan pengaruh perubahan tekhnologi informasi konsumen sudah jelas. Seorang konsumen yang informationalised adalah seorang konsumen yang banyak pilihan. Dalam bukunya the age of paradox, Charles handy menggambarkan suatu abad yang penuh hal-hal yang berlawanan karena semakin banyak pilihan yang bisa dilakukan. Konsumen tanpa informasi adalah konsumen yang “terbelenggu”dan tidak punya pilihan. Tom peters dalam bukunya the liberation management menggunakan istilah informationalised ini untuk “membebaskan” para karyawan sebuah perusahaan dari hirarki dan birokrasi. Dalam tulisannya yang provokatif itu, tom peters menganggap bahwa apabila seorang karyawan mempunyai akses dan bisa menggunakan informasi tentang konsumen, maka dia punya kesempatan lebih baik untuk melayani konsumen.
Ekonomi yang lebih terbuka, tersebar dan berdasarkan mekanisme pasar tenyata telah terbukti, lebih bisa menaikkan derajat kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Konsumen yang semakin enlightened, informationlised, dan empowered itu akan semakin tinggi pula tuntutannnya. Kalau dulu konsep-konsep marketing hanya bicara bagaimana memuaskan need & want konsumen. Tapi pada saat ini, konsep-konsep tersebut sudah bicara tentang expectation. Sehingga pada saat ini konsumen, konsumen harus semakin dipuaskan dari segi need, want, dan expectation.
KONSUMEN SEKARANG MENJADI SEMAKIN CANGGIH YAAA….?