Segmentasi dan profil Psikografis

images segmantasi pasar
Awal maret 2006, dalam forum Markplus di bahas tentang masalah segmentasi psikografis di indonesia, sebuah tema klasik namun selalu menarik. Pada acara ini, hadir juga Yanti B. Suganda , managing director polling center-Marketing and social research, untuk mempresentasikan hasil studi mutakhirnya tentang ” Ur ban & rural Lifestyle 2006″.

Segmentasi perusahaan terjadi karena perusahaan tidak dapat memuaskan semua orang sekaligus. Perusahaan mempunyai sumberdaya uang, manusia, peralatanyang terbatas sehingga harus memilah-milah pasar, kemudian memilih segmen mana yang paling menguntungkan baginya. Jikaperusahaan tidak melakukan segmentasi ini, dan ingin menggarap semua pasar, tanpa sumberdaya yang memadai bisa dipastikan ia akan kualahan dan mungkin juga malahan akan mengecewakan pelanggannya secara keseluruhan.

Secara alamiah setiap manusia juga tidak diciptakan sama. Ada perbedaan budaya, bangsa, geografi, dan ras. Nilai setiap orang maupun sekelompok individu pun berbeda. Karena itulah, dikenal berbagai cara untuk memilah-milah pasar berdasarkan pendekatan eografis, demografis, dan psikografis.

pendekatan geografis dan demografis (tempat, umur, gender, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan sebagainya) merupakan cara segmantasi yang paling sedehana dan sering di lakukan. Namun pendekatan seperti ini tidak lagi cukup kerena yang di temui dalam suatu segmen geografis-demografis yang sama. Segmentasi seperti ini juga tidak bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang preferensi pembelian konsumen.

Pendekatan psikografislah yang paling tepat untuk saat ini, karena Values dan perilaku konsumen pada saat ini merupakan faktor yang paling berperan dalam keputusan pembelian. Selain itu, berdasarkan pendekatan psikografis ini perusahaan dapat lebih tepat menentukan strategi pemasaran berbagai produknya yang sesuai untuk segmen masing-masing.

Sebagai contoh hasil studi mengenai pendekatan psikografis ini,Setiap bangsa dan negara memiliki profil psikografis yang unik,  Bangsa Malaysia misalnya. Mereka lebih senang bersenag-senang dari pada bekerja, dalam menjalani hidup mereka tidak terlalu ngoyo. Mereka di kenal sebagai bangsa yang santun. Hidup mereka pun sederhana dan lebih senag tinggal bersama-sama dalam satu kelompok. Orientasi hidup mereka pun lebih kepada keluarga(Karthik Siva, Chairman Global Brand Forum(GBF),2005).

Sedangkan masyarakat India lebih mngedepankan hal-hal yang lebih bersifat spiritual ketimbang hal-hal yang bersifat material. Mereka bersifat fatalis, percaya bahwa nasib menguasai segala-galanya. Kehormatan keluarga lebih di kedepankan daripada kehormatan pribadi. Mereka juga bersifat sentimentil, Dramatik, Spontan, selalu riang, dan Passonate (ingat film-film bollywod kan). Sementara itu di bangsa china lebih mengutamakan hal-hal yang material daripada spiritual. mereka juga ambisius, bertekad kuat untuk sukses, karena itu memili etos kerja keras. Beda dengan masyarakat India, masyarakat China lebih berorientasi kepada hal-hal yang bersifat tindakan ketimbang bersifat intelektual.

Secara keseluruhan, Bangsa Asia berdasarkan studi GBF memiliki sejumlah kesamaan nilai-nilai asia(Asan Values). Bangsa Asia dikenal senang hidup harmonis dan teratur, menghormati orang tua, serta memiliki ikatan keluarga dan komunitas yang kuat. Dalam menyelesaikan masalah juga lebih mengutamakan musyawarah dan mufakat.Bangsa Asia juga dikenal sangat memperhatikan tradisi dan Budayanya masing-masing.

Bagaimana dengan di Indonesia sendiri? Markplus & co baru saja melakukan studi berdasarkan pendekatangeografis, demografis, dan psikografisdari hasil tersebut di hasilkan The % faces of Indonesian Customers :

  1. Indonesia satu : tingggal di daerah terpencil, berprofesi sebagai pemburu, dan kebutuhan utamanya hanyalah bertahan hidup(survive)
  2. Indonesia dua : tinggal di pedesaan, berprofesi sebagai petani, dan kebutuhan utamanya hanyalah masalah keamanan.
  3. Indonesia tiga : tinggal di sub-urban ( Bekasi atau Tangerang misalnya) berprofesi sebagaiburuh kasar, kebutuhan utamanya adalah bersosialisasi.
  4. Indonesia empat : tinggal di perkotaan, berprofesi sebagai pekerja kantoran, dan kebutuhan utamanya adalah statusnya di masyarakat.
  5. Indonesia lima : tinggal di metropolitan, berprofesi sebagai wirausahawan atau pekerja kreatif ( konsultan, seniman, pekerja IT), kebutuhan utamanya adalah aktualisasi diri.

Segmentasi yang tepat merupakan titik awal yang baik dalam memutuskan strategi pemasaran selanjutnya.

KUNJUNGI JUGA PEMASARAN YANG DI LAKUKAN WEB-WEB INI :



MAU YANG CUMA KLIK DAPET DUID KESINIH :

TULISAN GUDANGUPIL YANG LAINNYA..!!