SEJARAH EVOLUSI BISNIS RITEL DI INDONESIA

By at 21 March, 2010, 2:44 am

Evolusi Bisnis Ritel di Indonesia

Dimasa depan, pertumbuhane-retailing dan m-retailing akan bertambah tinggi seiring dengan meningkatnya kepemilikan computer akan telepon selurer yang bisa digunakan untuk layanan internet dan mobile commerce. Hal ini juga didukung oleh layanan online banking dan mobile banking dari sejumlah bank terkemuka.

Evolusi bisnis riteldi Indonesia  sangat menarik untuk diikuti. Evolusi ini sendiri dapat dibagi menjadi beberapa tahap. Dapat dikatakan bahwabentuk ritel di Indonesia berkembang dalam siklus 10 tahunan. Walaupun begitu, ada kecenderungan bahwa siklus ini bisa terjadi dalam periode yang lebih singkat. Secara lebih singkat, evolusi bentuk ritel di Indonesia ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

Sebelum tahun 1960-an, era perkembangan ritel tradisional dalam bentuk peritel atau independen dealer. Pada tahun 1960-an pula : era lahirnya ritel modern dalam bentuk department store (mass merchandiser), yang ditandai dengan pembukaan took ritel pertama Sarinah di Jl. MH Thamrin, Jakarta.

Pada tahun 1970an -1980-an : era pengembangan ritel modern dalam bentuk supermarket dan department store, yang ditandai dengan pengembangan ritel modern (mass merchandiser dan grosir), seperti matahari, hero. Golden truly, pasaraya Blok M, dan Ramayana. Pada era ini berkembang pula took-toko obat yang lebih dikenal dengan apotik.

Pada tahun 1990-an : era perkembangan convenience Store (C-Store), high class department store, branded boutique (high fashion), dan cash & carry. Perkembangan C-Store ditandai dengan pesatnya pertumbuhan Indomaret dan AMPM. Perkembangan high-class department store dan high fashion Outlet ditandai dengan kehadiran gerai-gerai Sogo, metro, seibu, yaohan, Mark &spencer, dan gerai-gerai high fashion lainnya yang masuk ke pasar. Sementara perkembangan cash & carry ditandai dengan kehadiran makro, diikuti dengan kehadiran peritel local sejenis goro, indogrosir, dan Alfa.

Pada tahun 2000 sampai sekarang : era perkembangan Hypermarket, factory outlet, category killer, dan lainnyae-retailling. Era hypermarket ditandai dengan kehadiran hypermarket continent dan Carrefour pada tahun 1998. Kemudian, pada tahun 2002, hypermarket Giant dan hypermarket-hypermarket lainnya juga mulai dibuka.

Kebutuhan produk atau merek berkualitas dengan harga murah akibat dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan memicu lahirnyacategory killer dan factory outlet. Di tahun-tahun mendatang, category killer akan tumbuh pada banyak category produk, seperti perlengkapan keluarga, customer electronics, peralatan rumah tangga /kamar tidur /kamar mandi, home improvement, makanan dan perawatan binatang peliharaan, hobi/kerajinan, computer, dan peralatan olah raga yang akan melengkapi category killer yang sudah ada selama ini, seperti : department store, took buku, took electronics, took peralatan kantor, dan toko mainan. Sejumlah factory outlet mulai bermunculan di Bnadung dan Jakarta, seperti Millenia dan Metro factory outlet.

Setelah kehadiran category killer dan factory outlet ini, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi kita akan melihat perkembangan berbagai format baru ritel seperti hard discounter Store dan catalog services. Persaingan harga yang ketat akan membuat peritel mencari alaternatif bentuk ritel yang lebih efisien. Jadi, aka nada banyak bentuk hard discounter Store menggantikan bentuk hypermarket. Hard discounter Store ini menawarkan produk yang serupa dengan harga 15%-30% lebih murah dibandingkan bentuk ritel lainnya.

Di sini, private label akan lebih popular. Disamping itu, produk-produk yang penggunaannya dalam jangka waktu lama (durable products)- seperti paian, peralatan, dan electronik akan berkembang melalui catalog services. Catalog services ini memungkinkan peritel untuk menjual pada harga yang murah karena mereka tidak menghabiskan biaya investasi dan biaya operasional secara fisik.

Penggunaan komputer dengan akses Internet-nya dalam komunitas akan mendorongpertumbuhan bentuk catalog melalui e-retailing. Kelompok bisnis multipolar denganLipposhop-nya, walupun kemudian bangkrut, bisa dikatakan sebagai salah satu pelopor e-retailing di Indonesia. Begitu pula Sanur, click & drag, dan gramedia online. Sayangnya mereka semua untuk saat ini mungkin menghadapi masalah yang sama, yaitu kecilnya permintaan pasar, namun entah beberapa tahun mendatang dengan mulai meleknya masyarakat kita dengan Internet.

Dimasa depan, dapat diprediksikan pertumbuhan e-retailing dan m-retailing akan  bertambah tinggi seiring dengan meningkatnya kepemilikan computer dan akses internet di rumah-rumah. Dan telepon seluler yang kinipun dapat digunakan untuk pengguna mobile commerce dan akses internet.

Incoming search terms:

Categories : indo


No comments yet.

Leave a comment